15/10/12

Bentuk Geomorfologi Dasar Laut pada Tepian Lempeng Aktif di Lepas Pantai Barat Sumatera dan Selatan Jawa, Indonesia

Abstrak
Tatanan tektonik sebelah barat Sumatera dan selatan Jawa, didominasi oleh pergerakan ke utara dari tepian aktif lempeng samudera Hindia dan lempeng benua Australia terhadap lempengan Sunda dengan kecepatan sekitar 6-7 cm/tahun. Komponen gerakan lempengan yang relatif tegak lurus terhadap arah batas lempeng sebagian besar membentuk sesar-sesar naik di sepanjang zona subduksi Sumatera dan Java, sedangkan komponen lempeng yang parallel terhadap batas lempeng didominasi oleh terbentuknya sesar-sesar geser pada zona sesar.
Kajian tepian tektonik aktif difokuskan untuk mengidentifikasi bentuk geomorfologi dasar laut dari masing-masing segmen lempeng. Empat bentuk morfologi utama dapat diidentifikasi, seperti zona subduksi, palung laut, prisma akresi, dan cekungan busur muka. Gambaran bentuk geomorfologi dasar laut ini kemungkinan merupakan contoh morfologi dasar laut yang terbaik di dunia.
Batas-batas bentuk geomorfologi dasar laut ini sangat jelas terlihat pada rekaman seismic dan citra seabeam. Makin kearah selatan, dasar laut makin banyak mengalami pensesaran normal. Sesar-sesar ini nampaknya lebih intensif makin jauh dari palung laut. Pada sumbu palung, bentuk kerak samudera telah banyak mengalami pensesaran dan membentuk pola-pola horst dan graben secara luas.
A. TATANAN GEOLOGI KELAUTAN INDONESIA
Tatanan geologi kelautan Indonesia merupakan bagian yang sangat unik dalam tatanan kelautan dunia, karena berada pada pertemuan paling tidak tiga lempeng tektonik : Lempeng Samudera Pasifik, Lempeng Benua Australia-Lempeng Samudera India serta Lempeng Benua Asia.
Berdasarkan karakteristik geologi dan kedudukan fisiografi regional, wilayah laut Indonesia dibagi menjadi zona dalam (inboard) dan luar (outboard) yang menempati regim zona tambahan (contiguous), Zona Ekonomi Eksklusif dan Landan Kontinen. Bagian barat zona dalam ditempati oleh Paparan Sunda (Sunda Shelf) yang merupakan sub-sistem dari lempeng benua Eurasia, dicirikan oleh kedalaman dasar laut maksimum 200 m yang terletak pada bagian dalam gugusan pulau-pulau utama yaitu Sumatera, Jawa, dan Kalimantan (menurut Toponim internasional seharusnya disebut pulau Borneo).
Bagian tengah zona dalam merupakan zona transisi dari sistem paparan bagian barat dan sistim laut dalam di bagian timur. Kedalaman laut pada zona transisi ini mencapai lebih dari 3.000 meter yaitu laut Bali, Laut Flores dan Selat Makasar. Bagian paling timur zona dalam adalah zona sistem laut Banda yang merupakan cekungan tepian (marginal basin) dicirikan oleh kedalaman laut yang mencapai lebih dari 6.000 m dan adanya beberapa keratan daratan (landmass sliver) yang berasal dari tepian benua Australia (Australian continental margin) seperti pulau Timor dan Wetar (Curray et al, 1982, Katili, 2008).
Zona bagian luar ditempati oleh sistem Samudera Hindia, Laut Pasifik, Laut Timor, laut Arafura, laut Filipina Barat, laut Sulawesi dan laut Cina Selatan. Menurut Hamilton (1979), kerumitan dari tatanan fisiografi dan geologi wilayah laut Nusantara ini disebabkan oleh adanya interaksi lempeng-lempeng kerak bumi Eurasia (utara), Hindia-Australia (selatan), Pasifik-Filipina Barat (timur) dan Laut Sulawesi (utara).
Proses geodinamika global (More et al, 1980), selanjutnya berperan dalam membentuk tatanan tepian pulau-pulau Nusantara tipe konvergen aktif (Indonesia maritime continental active margin), dimana bagian luar Nusantara merupakan perwujudan dari zona penunjaman (subduksi) dan atau tumbukan (kolisi) terhadap bagian dalam Nusantara, yang akhirnya membentuk fisiografi perairan Indonesia.
Gambar 1. Fisiografi Perairan Indonesia akibat Proses Tektonik
B. MODEL TEKTONIK TEPIAN LEMPENG AKTIF
Lempeng samudera bergerak menunjam lempeng benua membentuk zona penunjaman aktif, sehingga wilayah perairan Indonesia di bagian barat Sumatera dan selatan Jawa disamping mempunyai potensi aspek geologi dan sumberdaya mineral juga berpotensi terjadinya bencana geologi (gempabumi, tsunami, longsoran pantai dan gawir laut). Di bagian tengah kerak samudera India ini terbentuk suatu jalur lurus yang disebut Mid Oceanic Ridge (Pematang Tengah Samudra), sedangkan dibagian timurnya atau sebalah barat terbentuk jalur punggungan lurus utara – selatan yang disebut Ninety East Ridge  (letaknya hampir berimpit dengan bujur 90 timur) merupakan daerah mineralisasi (Usman, 2006). Bagian yang dalam membentuk cekungan kerak samudera yang terisi oleh sedimen yang berasal dari dataran India membentuk Bengal Fan hingga ke perairan Nias dengan ketebalan sedimen antara 2.000 – 3.000 meter (Ginco, 1999). Daerah Pematang Tengah Samudra pada Lempeng Indo-Australia merupakan implikasi dari proses Sea Floor Spereading (Pemekaran Lantai Samudera) yang mencapai puncaknya pada Miosen Akhir dengan kecepatan 6-7 cm/tahun, sebelumnya pada Oligosen awal hanya 5 cm/tahun (Katili, 2008).
Gambar 2. Memperlihatkan bentuk ideal geomorfologi pada tepian lempeng aktif adalah mengikuti proses-proses penunjaman yaitu palung samudera (trench), prisma akresi (accretionary prism), punggungan busur muka (forearc ridge), cekungan busur muka (forearc basin), busur gunungapi (volcanic arc), dan cekungan busur belakang (backarc basin). Busur gunungapi dan cekungan busur belakang lazimnya berada di bagian daratan atau kontinen (Lubis et al, 2007).
Gambar 2. Komponen Tektonik Ideal pada Penunjaman Tepian Lempeng Aktif 
(Hamilton, 1979).
Hasil identifikasi bentuk dasar laut dari beberapa lintasan seismik, citra seabeam dan foto dasar laut maka dapat dikenali beberapa bentuk geomorfologi utama yang umum terdapat pada kawasan subduksi lempeng aktif. Empat bentuk morfologi utama dapat diidentifikasi, yaitu zona subduksi, palung laut, prisma akresi, dan cekungan busur muka. Gambaran bentuk geomorfologi dasar laut ini kemungkinan merupakan contoh morfologi dasar laut yang terbaik di dunia karena batas-batasnya yang jelas dan mudah dikenali.
C. SATUAN GEOMORFOLOGI TEPIAN LEMPENG AKTIF
1. Geomorfologi Zona Subduksi
Lempeng Samudera India merupakan kerak yang tipis yang ditutupi laut dengan kedalaman antara 1.000 – 5.000 meter. Lempeng Samudera dan lempeng benua (Continental Crust) dipisahkan oleh Subduction Zone (Zona Penunjaman) dengan kedalaman antara 6.000-7.000 meter yang membujur dari barat Sumatera, selatan Jawa hingga Laut Banda bagian barat yang disebut Java Trench (Parit Jawa). 
Geomorfologi  zona subduksi ini merupakan gabungan yang erat antara proses-proses yang terjadi pada tepian kerak samudera, tepian kerak benua dan proses penunjaman itu sendiri. Sebagai konsekuansi dari tepian aktif, maka banyak proses tektonik yang mungkin terjadi diantaranya, sesar-sesar mendatar, sesar-sesar normal yang biasanya membentuk horst dan graben, serta kemunginan aktivitas gunung api (hot spot?). Salah satu diantaranya adalah terbentuknya gunungapi (submarine volcano atau seamount?) di luar busur volkanik. Indikasi adanya gunungapi atau tinggian seperti yang ditemukan Tim ekspedisi CGG Veritas (BPPT-LIPI-PPPGL-Berlin University) pada bulan Mei 2009 yang lalu sebenarnya bukan merupakan gunungapi baru. Beberapa peta batimetri dan citra satelit telah mencantumkan adanya tinggian tersebut, hanya sampai saat ini belum diberikan nama resmi (toponimi) yang tepat (PPPGL, 2008). 
Lintasan survei deep-seismic CGGV-04  telah mendeteksi adanya puncak gunung bawah laut pada posisi koordinat 4°21.758 LU, 99°25,002 BT. Puncak gunung bawah laut ini berada pada kedalaman 1.285 m dengan dasar atau kaki gunung pada kedalaman 5.902 m. Hasil interpretasi data memperlihatkan bahwa gunung bawah laut ini memiliki ketinggian 4.617 m dan Lebar kaki gunung sekitar 50 km. Lokasi gunung  bawah laut yang terdeteksi ini berada pada jarak 320 km sebelah barat dari Kota Bengkulu (Gambar 3). Namun demikian, berdasarkan konsepsi tektonik, gunungapi di Lantai Samudera tidak seberbahaya dibandingkan gunungapi yang terbentuk di tepian benua aktif. 
Gambar 3. Gambaran Geomorfologi pada Zona Subduksi dan Kenampakan Seamount di Kerak Samudera India, Sumbu Palung Laut dan Prisma Akresi di Lepas Pantai Bengkulu.
2. Geomorfologi Palung Laut
Palung laut merupakan bentuk paritan memanjang dengan kedalaman mencapai lebih dari 6.500 meter. Umumnya palung laut ini merupakan batas antara kerak samudera India dengan tepian benua Eurasia sebagai bentuk penunjaman yang menghasilkan celah memanjang tegak lurus terhadap arah penunjaman.  
 
Gambar 4. Satuan Geomorfologi Palung Samudra di Sebelah Selatan Jawa
(PPPGL, 2008).


Beberapa patahan yang muncul di sekitar palung laut ini dapat reaktif kembali seperti yang diperlihatkan oleh hasil plot pusat-pusat gempa di sepanjang lepas pantai pulau Sumatera dan Jawa. Sesar mendatar Mentawai yang ditemukan pada Ekspedisi Mentawai Indonesia-Prancis tahun 1990-an terindikasi sebagai sesar mendatar yang berpasangan namun di berarapa bagian memperihatkan bentuk sesar naik. Hal ini merupakan salah satu sebab makin meningkatnya tekanan kompresif dan seismisitas yang menimbulkan kegempaan. 
Di bagian barat pulau Sumatera, pergerakan lempeng samudera India mengalibatkan terangkatnya sedimen (seabed) di kerak samudera dan prisma-prisma akresi yang merupakan bagian terluar dari kontinen. Sesar-sesar normal yang terbentuk di daerah bagian dalam yang memisahkan prisma akresi dengan busur  kepulauan (island arc) mengakibatkan peningkatan pasokan sedimen yang lebih besar (Lubis et al, 2007). Demikian pula akibat terjadinya pengangkatan tersebut maka morfologi palung laut di kawasan ini memperlihatkan bentuk lereng yang terjal dan sempit dibandingkan dengan palung yang terbentuk di kawasan timur Indonesia.
3. Geomorfologi Prisma Akresi
Pembentukan prisma akresi di dasar laut dikontrol oleh aktifitas tektonik sesar-sesar naik (thrusting) yang mengakibatkan proses pengangkatan (uplifting). Proses ini terjadi karena konsekuensi dari proses tumbukan antar segmen kontinen yang menyebabkan bagian tepian lempeng daerah tumbukan tersebut mengalami proses pengangkatan. Proses ini umumnya terjadi di kawasan barat Indonesia yaitu di samudra Hindia. 
Pulau-pulau prisma akresi merupakan prisma akresi yang terangkat sampai ke permukaan laut sebagai konsekuensi desakan lempeng Samudera Hindia ke arah utara dengan kecepatan 6-7 cm/tahun terhadap lempeng Benua Asia-Eropa sebagai benua pasif menerima tekanan (Hamilton, 1979). Oleh sebab itulah pengangkatan dan sesar-sesar naik di beberapa tempat, seperti yang terjadi di Kep. Mentawai, Enggano, Nias, sampai Simelueu yang terangkat membentuk gugusan pulau-pulau memanjang parallel terhadap arah zona subduksi (Lubis, 2009).  Gambar 5. memperlihatkan prisma akresi yang naik ke permukaan laut membentuk pulau-pulau prisma akresi di lepas pantai Aceh, sedangkan contoh prisma akresi yang belum naik ke permukaan laut diperlihatkan pada Gambar 6. yaitu prisma akresi di lepas pantai selatan Jawa. Selain itu proses pembentukan lainnya yang lazim terjadi di kawasan ini adalah aktifnya patahan (sesar) dan amblasan (subsidensi) di sekitar pantai sehingga pulau-pulau akresi yang terbentuk terpisah dari daratan utamanya (Cruise Report SO00-2, 2009).  
Prisma akresi merupakan wilayah yang paling rawan terhadap kegempaan karena pusat-pusat gempa berada di bawahnya. Batuan prisma akresi memiliki ke-khasan tersendiri yaitu ditemukannya batuan campur-aduk (melange, ofiolit) yang umumnya berupa batuan Skist berumur muda. Sejarah kegempaan di kawasan ini membuktikan bahwa episentrum gempa-gempa kuat umumnya terletak pada prisma akresi ini karena merupakan gempa dangkal (kedalaman < 30 Km). Gempa kuat yang pernah tercatat mencapai skala 9 Richter pada tagl 26 Desember 2004. Beberapa ahli geologi juga masih mengkhawatirkan suatu saat akan terulang gempa sebesar ini di kawasan barat Bengkulu, karena prisma akresi di kawasan ini masih belum melepaskan energi kegempaan (locked zone) sementara kawasan disekitarnya sudah terpicu dan melepaskan energi melalui serangkaian gempa-gempa sedang-kuat. 
Di Sumatera ditemukan dua prisma akresi, yaitu accretionary wedge 1 di bagian luar & accretionary wedge 2 di bagian dalam outer arc high  yang memisahkan prisma akresi dengan cekungan busur muka (Mentawai forearc asin). Adanya  outer arc high yang memisahkan dua prisma akresi tersebut mengalibatkan sedimen yang berasal dari daratan induknya tidak dapat menerus ke bagian barat  tetapi terendapkan di cekungan busur muka.
Gambar 5. Geomorfologi Prisma Akresi yang naik kepermukaan sebagai Pulau Prisma Akresi di Lepas Pantai sebelah Barat Aceh.


Gambar 6. Geomorfologi Prisma Akresi di Selatan Jawa yang belum muncul ke Permukaan Laut.
4. Geomorfologi Cekungan Busur Muka
Survey kemitraan Indonesia-Jerman Sonne Cruise 186-2 SeaCause-II dilaksanakan pada tahun 2006 di perairan barat Aceh sampai ke wilayah Landas Kontinen di luar 200 mil.  Hasil interpretasi lintasan-lintasan seismik yang memotong cekungan Simeulue yaitu lintasan 135-139 memperlihatkan indikasi cekungan busur muka Simelue merupakan cekungan a-symetri laut dalam dengan kedalaman laut antara 1.000-1.500m, makin ke barat ketebalan sedimen makin tebal mencapai 5.000m lebih. 
Di sisi barat cekungan ini ditemukan sesar-sesar mendatar (kelanjutan Sesar Mentawai?)  yang mengontrol aktifnya sesar-sesar tumbuh (growth fault) sehingga mengakibatkan deformasi struktur batuan sedimen pada tepian cekungan. 
Berdasarkan seismik stratigrafi, umur sedimen pengisi cekungan ini relatif muda (Miocene) sehingga kurang memungkinkan terjadi pematangan sebagai source rock (IPA, 2002). Selain itu, tingkat pematangan (maturitas) batuan reservoar relatif rendah karena laju pengendapan yg relatif cepat di laut dalam, demikian pula dengan pengaruh proses pematangan diagenesa volkanisme di bagian timur yang jaraknya terlalu jauh. 
Salah satu contoh terbaik terbentuknya cekungan busur muka adalah cekungan Lombok yang telah teridentifikasi memiliki komponen toponimi yang lengkap, seperti koordinat (x,y,z), batas-batas cekungan, luas, kedalaman, dsb.
Gambar 7. Geomorfologi cekungan Lombok sebagai cekungan busur muka (PPPGL, 2008)



D. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil re-interpretasi rekaman seismic, citra seabeam, serta data batimetrik dari beberapa lintasan yang memotong zona subduksi pada system tektonik tepian lempeng aktif, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan, diantaranya:
  • Batas penunjaman lempeng samudera India dengan lempeng Eurasia secara tegas membentuk satuan geomorfologi palung samudera dengan kedalaman antara 6.000-7.000 meter yang arahnya tegak lurus terhadap arah penunjaman.
  • Sebagai konsekuensi logis penunjaman lempeng samudera yang mempunyai densitas lebih tinggi dibandingkan lempeng benua maka terbentuk satuan geomorfologi prisma akresi yang merupakan proses campur-aduk dimana terjadi deformasi dasar laut secara besar-besaran. Proses geologi yang umum terjadi adalah perlipatandan sesar-sesar naik yang disertai dengan proses pengangkatan. Sesar-sesar normal dan mendatar banyak dijumpai pada daerah yang jauh dari palung samudera terutama pada punggungan dan tepian cekungan.
  • Cekungan busur muka terbentuk antara punggungan busur muka dan busur gunungapi dimana proses sedimentasi dominan berasal dari bagian kontinen, sehingga umumnya membentuk geomorfologi cekungan memanjang a-symetri.
  • Gambaran geomorfologi dasar laut di tepian lempeng aktif di barat Sumatera dan selatan Jawa memperlihatkan batas satuan yang jelas dan tegas sehingga merupakan contoh bentuk geomorfologi zona penunjaman yang terbaik di dunia. 

---------------------------


12/10/12

Hakikat Geografi


Sesungguhnya ilmu bumi tidak sama dengan geografi. Ilmu bumi lebih tepat jika disamakan dengan geologi, yaitu ilmu yang mengkaji bumi secara menyeluruh. Geologi mengkaji kulit bumi hingga inti bumi tanpa membahas hubungannya dengan manusia.

Istilah geografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata geos yang artinya bumi dan graphein yang artinya tulisan atau lukisan. Istilah itu pertama kali dikemukakan oleh Erathostenes (176-194 SM). Secara umum geografi berarti tulisan atau lukisan tentang bumi. Oleh karena itu, geografi lebih dikenal sebagai ilmu bumi. Lebih dari sekadar ilmu tentang bumi, geografi tidak hanya mengkaji bumi dan isinya saja. Akan tetapi, geografi juga mengkaji gejala-gejala alam yang meliputi litosfer, hidrosfer, atmosfer, biosfer, dan antroposfer.
Di Indonesia pengertian dan batasan geografi telah disepakati dalam seminar dan lokakarya Ikatan Geografi Indonesia (IGI) di Semarang pada tahun 1989, yaitu sebagai berikut :

Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena di geosfer (muka bumi) dengan sudut pandang kelingkungan (ekologis) dan kewilayahan (regional) dalam konteks keruangan (space).

B. Perkembangan Pandangan Geografi

Pandangan geografi dibedakan menjadi 5 bagian, yaitu pandangan geografi klasik, pandangan geografi modern (abad ke-18), pandangan geografi akhir abad ke-19, pandangan geografi abad ke-20, dan pandangan geografi mutakhir.

     1. Pandangan Geografi Klasik
Pada zaman Yunani kuno pengetahuan manusia tentang bumi masih sangat dipengaruhi oleh mitologi. Namun, sejak abad ke-6 SM pengaruh mitologi itu terus berkurang seiring dengan makin berkembangnya ilmu pengetahuan sehingga pengetahuan tentang bumi mulai didasarkan atas ilmu alam, ilmu pasti, dan logika. Salah satu bukti bahwa pengetahuan telah didasarkan pada logika adalah telah adanya usaha untuk menjelaskan tentang suatu wilayah termasuk perilaku penduduknya. Orang yang pertama kali menguraikan seluk-beluk keadaan suatu tempat, yang kemudian dinamakan topografi adalah Herodutus (485-428 SM). 
Claudius Ptolomeus dalam bukunya yang berjudul Geographike Unphegesis (pertengahan abad ke-2) menjelaskan bahwa geografi adalah suatu bentuk penyajian dengan peta terhadap sebagian permukaan bumi yang menunjukkan kenampakan umum. Menurut Ptolomeus geografi lebih mengutamakan hal-hal atau fenomena yang bersifat kuantitatif. Pandangan dan pendapat Ptolomeus ini merupakan sumber bagi definisi geografi zaman modern. 
Seorang ahli filsafat dari Arab Ibnu Khaldun (1332-1406), menulis buku kesejarahan yang dapat dikatakan sebagai embrio ilmu kemasyarakatan. Ibnu Khaldun memperhatikan permasalahan irigasi, kehidupan bangsa nomad, dan aktivitas perdagangan di daerah gurun. Ibnu Khaldun juga menguraikan penyebab munculnya kerajaan-kerajaan Islam dan meramalkan ambruknya kerajaan-kerajaan tersebut. Ibnu Khaldun termasuk ahli geografi yang telah menunjukkan contoh cara menguraikan pengaruh lingkungan alam terhadap masyarakat dalam suatu wilayah.
     2. Pandangan Geografi Modern (abad ke-18)
Pandangan geografi modern pada awalnya dikemukakan oleh Immanuel Kant (1724-1804). Menurut Kant, geografi merupakan disiplin ilmiah yang objek studinya adalah benda-benda atau gejala-gejala yang keberadaannya tersebar dan berasosiasi dalam ruang (space). 
Alexander von Humboldt (1769-1859) lebih berminat pada kajian fisik dan biologi. Humboldt adalah seorang ahli geografi asal Jerman yang melakukan perjalanan ke Benua Amerika. Hasil dari perjalanannya itu adalah sebuah deskripsi tentang hubungan antara ketinggian tempat dan vegetasi yang mendiaminya. Namun demikian, Humboldt juga tetap memperhatikan keberadaan manusia, antara lain perhatiannya tentang kebudayaan penduduk Asia dan kebudayaan penduduk Amerika. 
Karl Ritter (1779-1859) membuat uraian yang sejalan dengan pemikiran Humboldt, yaitu menjelaskan kegiatan manusia dalam suatu wilayah. Ritter menganggap permukaan bumi sebagai tempat tinggal manusia dan menggolongkannya menjadi wilayah alamiah, terutama berdasarkan bentang alamnya, serta mempelajari unit wilayah tersebut bagi masyarakat yang akan menempati atau pernah menempati. Pandangan Geografi Akhir Abad ke-19 
Pada akhir abad ke-19 pandangan geografi dipusatkan terhadap iklim, tumbuhan, dan hewan (biogeografi) terutama pada bentang alamnya. Perhatian utama geografi pada masa ini adalah gejala-gejala fisik sehingga gejala-gejala sosial (manusia) tidak mengalami kemajuan. Perhatian geografi terhadap manusia pada akhir abad ke-19 tetap becorak pada pandangan Ritter, yaitu mengkaji hubungan manusia dengan lingkungannya. 
Friedrich Ratzel (1844-1904) mempelajari pengaruh lingkungan fisik terhadap kehidupan manusia. Menurut Ratzel aktivitas manusia merupakan faktor penting bagi kehidupan dalam suatu lingkungan. Ratzel juga beranggapan bahwa faktor manusia dan faktor lingkungan memiliki kedudukan dan pengaruh yang sama dalam membentuk lingkungan hidup.
     3. Pandangan Geografi Abad ke-20
Salah satu ciri pandangan geografi pada abad ke-20 adalah kajiannya yang bercorak sosial budaya. Pandangan yang bercorak sosial budaya itu merupakan reaksi atas dominasi geografi alam hingga akhir abad ke-19. 
Vidal de la Blache (1854-1918) mengemukakan pendapatnya bahwa dalam kajian geografi harus menyatukan faktor manusia dan faktor fisik karena tujuan geografi adalah untuk mengetahui adanya interaksi antara manusia dan lingkungan fisiknya. Oleh karena itu, konsep geografi yang dikemukakan Vidal de la Blache adalah kewilayahan.
     4. Pandangan Geografi Mutakhir
E. A. Wrigley (1965) mengemukakan pendapatnya bahwa semua metode analisa dapat digunakan dalam kajian geografi selama analisa tersebut mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Wrigley juga berpendapat bahwa geografi adalah disiplin ilmiah yang berorientasi pada masalah (problem oriented) dalam mengkaji interaksi antara manusia dan lingkungannya. 
Pandangan Geografi mutakhir juga ditandai oleh adanya kajian-kajian geografi yang bersifat tematik dalam suatu wilayah, terutama interaksi antara manusia dan lingkungannya. Di dalam kajian tersebut telah menggunakan metode statistik dan pemanfaatan komputer untuk menganalisa dan menyimpan data.
    5. Geografi Ortodoks dan Geografi Terintegrasi
Perbedaan pandangan terhadap geografi menghasilkan definisi yang berbeda-beda sehingga tidak dapat diterima oleh setiap orang. Akan tetapi, meskipun pandangan para ahli berbeda-beda terhadap geografi, mereka mengakui adanya elemen-elemen yang sama dalam geografi, yaitu sebagai berikut. 
Para ahli geografi mengakui adanya persamaan dengan ahli ilmu pengetahuan bumi (earth science) yang lain karena wilayah kajiannya sama, yaitu permukaan bumi dan bukan ruang yang bersifat abstrak. Menurut para ahli geografi permukaan bumi merupakan lingkungan hidup bagi manusia yang dapat mempengaruhi kehidupannya dengan mengubah dan membangunnya. 
Para ahli geografi memiliki perhatian sama, yaitu persebaran manusia dalam ruang dan hubungan manusia dengan lingkungannya. Para ahli geografi mengkaji cara tentang pengelolaan wilayah yang tepat untuk dapat memanfaatkan ruang dan sumber daya. Para ahli geografi mengakui adanya unsur-unsur yang sama dalam geografi, antara lain jarak, interaksi, gerakan (mobilitas), dan persebaran.
Adanya persamaan-persamaan dalam kajian geografi berpengaruh terhadap perkembangan berbagai topik yang berhubungan dengan geografi. Oleh karena itu, pada saat ini kajian geografi dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu geografi ortodoks dan geografi terintegrasi.

     1. Geografi ortodoks
Geografi ortodoks adalah geografi yang melakukan kajian terhadap suatu wilayah (geografi regional) dan analisis terhadap sifat-sifat sistematiknya (geografi sistematik). Geografi ortodoks dibagi lagi menjadi 5 bagian sesuai dengan topik-topiknya, yaitu berikut ini. 
  • Geografi fisik, yaitu geografi yang melakukan kajian terhadap fenomena-fenomena fisik geosfer dan lingkungannya. Geografi fisik antara lain meliputi geomorfologi, hidrologi, klimatologi, dan pedologi. 
  • Geografi manusia, yaitu geografi yang melakukan kajian terhadap aktivitas manusia, antara lain meliputi geografi penduduk, geografi ekonomi, geografi perdesaan, dan geografi perkotaan. 
  • Geografi regional, yaitu geografi yang melakukan kajian terhadap perwilayahan dan kultural. Geografi perwilayahan antara lain terdiri dari geografi daerah tropika, geografi daerah arid, dan geografi daerah kutub. Geografi kultural antara lain terdiri dari geografi Asia Tenggara, Geografi Amerika Latin, dan geografi Eropa Barat.  
  • Geografi teknik, yaitu geografi yang melakukan kajian terhadap bidang teknik dalam geografi, anatara lain terdiri atas kartografi dan pengindraan jauh. 
  • Geografi filsafat, yaitu geografi yang melakukan kajian terhadap hakikat, sebab, asal, dan hukum yang berkenaan dengan bidang geografi, antara lain metodologi geografi dan geografi sejarah.
     2. Geografi terintegrasi
Geografi terintegrasi adalah kajian geografi dengan jalan memadukan antara elemen-elemen geografi sistematik dan geografi regional sehingga disebut juga geografi terpadu. Oleh karena itu, di dalam kajiannya geografi terintegrasi menggunakan tiga analisis, yaitu analisis keruangan, ekologi, dan wilayah.
C. Hakikat Geografi

Pengertian geografi memunculkan penafsiran yang berbeda-beda sehingga menimbulkan kesan yang berbeda-beda pula. Menurut Karl Ritter, geografi mempelajari bumi sebagai tempat tinggal manusia. Sebagai tempat tinggal manusia, bumi memiliki struktur dan pola yang terbentuk karena pengaruh aktivitas manusia.Agar pengertian geografi tidak terlalu meluas, adanya hakikat geografi dapat dijadikan sebagai batasan. Terdapat 6 hakikat dari geografi, yaitu sebagai berikut.
  • Geografi sebagai ilmu pengetahuan bio-fisik. Hakikat ini berlaku apabila yang dipelajari atau dibahas adalah geografi fisik dan geografi biotik yang menjadi dasar telaah atas seluk beluk tanah.
  • Geografi sebagai relasi timbal balik antara manusia dan alam. Hakikat ini berlaku apabila yang dikaji adalah topik-topik sosial, contohnya pengangguran, migrasi, dan kelaparan.
  • Geografi sebagai ekologi manusia. Di dalam hakikat ini yang dipelajari atau dibahas (ditelaah) adalah adaptasi manusia terhadap lingkungan hidupnya. Manusia tidak hanya dianggap dan diakui sebagai makhluk dari dunia fisik-biotik, tetapi juga sebagai suatu kekuatan. Setiap masyarakat memiliki kemampuan dan cara-cara adaptasi yang diwariskan secara turun-temurun dan selalu dikembangkan. Akan tetapi, ekologi manusia lebih mengutamakan relasi manusia dengan lingkungannya dan kurang memperhatikan adanya hubungan antarwilayah.
  • Geografi sebagai telaah bentang alam. Di dalam hakikat ini geografi menelaah tentang geomorfologi permukaan bumi sehingga dapat diketahui adanya persamaan dan perbedaan bentuk-bentuknya.
  • Geografi sebagai telaah tentang sebaran gejala alam dan sosial. Di dalam hakikat ini geografi menelaah gejala dan fenomena yang terjadi di mana-mana. Oleh karena gejala dan fenomena tersebut terjadi di mana-mana dan berbeda-beda, maka teknik penelaahan yang dilakukan pun berbeda-beda pula.
  • Geografi sebagai teori tentang ruang bumi. Di dalam hakikat ini yang dibahas adalah kemampuan adaptasi manusia di dalam berperilaku sesuai dengan ruang keberadaannya
D. Ruang Lingkup Geografi

Pengertian tentang geografi di atas menunjukkan bahwa yang dipelajari dalam geografi ternyata sangat luas. Oleh karena itu, perlu adanya batasan yang menjadi ruang lingkup bahasan geografi. Ruang lingkup bahasan geografi terdiri dari 3 bagian, yaitu sebagai berikut.
  • Geografi Fisik: Geografi fisik mempelajari gejala-gejala alam di permukaan bumi yang meliputi atmosfer, litosfer, hidrosfer, dan biosfer. Gejala-gejala alam tersebut berkaitan dengan bentuk, relief, iklim, dan segala sesuatu tentang bumi, serta tentang proses-proses fisik yang terjadi di darat, laut, dan udara yang berpengaruh pada kelangsungan hidup manusia.
  • Geografi Sosial: Geografi sosial mempelajari segala aktivitas kehidupan manusia di bumi dan interaksinya dengan lingkungan, baik dalam lingkungan sosial, ekonomi, maupun budaya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa geografi sosial (geografi manusia) mempelajari dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan dan dampak lingkungan terhadap manusia.
  • Geografi Regional: Geografi regional mempelajari topik atau bahasan khususnya yang mencakup suatu daerah atau wilayah tertentu. Geografi regional merupakan bahasan yang menyeluruh, baik dari aspek fisik ataupun sosial sehingga dianggap sebagaio bentuk tertinggi dalam geografi.
E. Pendekatan Geografi

Pendekatan geografi dapat diartikan sebagai suatu metode atau cara (analisis) untuk memahami berbagai gejala dan fenomena geosfer, khususnya interaksi antara manusia dan lingkungannya. Pendekatan geografi menjadi ciri bagi kajian geografi dan membedakannya dengan kajian ilmu-lmu yang lain.
Pendekatan (approach) yang digunakan dalam kajian geografi terdiri atas 3 macam, yaitu :
  • Analisis keruangan (spatial analysis) 
  • Analisis ekologi (ecological analysis)
  • Analisis kompleks wilayah (regional complex analysis)
Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan dalam geografi tidak membedakan antara elemen fisik dan nonfisik.

     1. Pendekatan Keruangan
Pendekatan keruangan adalah upaya dalam mengkaji rangkaian dan perbedaan fenomena geosfer dalam ruang. Di dalam pendekatan keruangan ini yang perlu diperhatikan adalah persebaran penggunaan ruang dan penyediaan ruang yang akan dimanfaatkan. 
Contoh penggunaan pendekatan keruangan adalah perencanaan pembukaan lahan untuk daerah permukiman yang baru. Data-data yang perlu diketahui untuk keperluan tersebut terutama yang menyangkut keadaan lokasi, antara lain ketinggian tempat, kemiringan lereng, jenis tanah, dan keadaan air tanah. Hal itu karena keadaan fisik lokasi tersebut akan berpengaruh terhadap tingkat adaptasi manusia yang akan menempatinya.
     2. Pendekatan Ekologi
Pendekatan ekologi adalah upaya dalam mengkaji fenomena geosfer khususnya terhadap interaksi antara organisme hidup dan lingkungannya, termasuk dengan organisme hidup yang lain. Di dalam organisme hidup itu manusia merupakan satu komponen yang penting dalam proses interaksi. Oleh karena itu, muncul istilah okologi manusia (human ecology) yang mempelajari interaksi antarmanusia serta antara manusia dan lingkungan. 
Kemampuan manusia dalam memanfaatkan lingkungannya untuk berbagai aktivitas kehidupan merupakan contoh pendekatan ekologi. Misalnya, manusia yang bertempat tinggal di pantai memiliki aktivitas yang berbeda dengan manusia yang tinggal di daerah pegunungan.
     3. Pendekatan Kompleks Wilayah
Pendekatan kompleks wilayah adalah upaya dalam mengkaji fenomena geosfer dengan menggunakan pendekatan keruangan dan pendekatan ekologi. Di dalam analisis ini yang menjadi perhatian adalah tentang persebaran fenomena tertentu melalui pendekatan keruangan dan interaksi manusia dengan lingkungannya melalui pendekatan ekologi. Pendekatan kompleks wilayah beranggapan bahwa interaksi antarwilayah akan berkembang karena adanya perbedaan antarwilayah itu. Oleh karena adanya perbedaan itu maka akan terjadi pemenuhan kebutuhan dari satu wilayah terhadap wilayah yang lain. 
Melalui pendekatan kompleks wilayah, perencanaan pembukaan lahan untuk daerah permukiman yang baru seperti contoh di atas dikaji lebih luas lagi, terutama hubungannya dengan wilayah lain dan pengembangannya. Hal tersebut membuktikan bahwa fenomena geografi yang terjadi pada suatu wilayah memiliki keterkaitan (hubungan) dengan fenomena di wilayah lain.
F. Konsep Dasar Geografi

Geografi memiliki 10 konsep dasar yang menjadi ciri khas sehingga membedakan dengan ilmu-ilmu yang lain. Konsep dasar tersebut adalah sebagai berikut.
  • Lokasi. Lokasi atau letak suatu objek terhadap objek yang lain akan berpengaruh terhadap nilai objek tersebut.
  • Jarak. Jarak dapat mempengaruhi nilai atau harga suatu objek atau barang, terutama barang-barang hasil produksi. Jarak juga dapat mempengaruhi lamanya waktu yang dibutuhkan dalam hubungan antar tempat.
  • Keterjangkauan. Suatu daerah dapat berhubungan dengan daerah lain apabila tersedia sarana yang sesuai dengan kondisi wilayahnya.
  • Pola. Keadaan alam tertentu berpengaruh terhadap pola persebaran dan permukiman penduduk.
  • Morfologi. Bentuk lahan sangat berpengaruh terhadap pemanfaatannya bagi manusia.
  • Aglomerasi. Kehidupan penduduk cenderung mengelompok menurut mata pencaharian atau status sosial tertentu. Demikian pula tempat tinggalnya.
  • Nilai Kegunaan. Suatu tempat memiliki nilai dan manfaat yang berbeda bagi masing-masing orang.
  • Interaksi/Interdepedensi. Hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan akan menimbulkan pergerakan manusia, barang, atau gagasan.
  • Diferensiasi Areal. Adanya perbedaan fenomena alam dan sosial menurut wilayah atau tempatnya.
  • Keterkaitan Ruangan. Hubungan antarwilayah terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan antarwilayah itu sehingga timbul rasa saling membutuhkan.
G. Objek Studi Geografi

Geografi memiliki cara berfikir yang khas dan berbeda dengan ilmu pengetahuan yang lain karena geografi menekankan pembahasannya pada gejala-gejala fisik dan sosial dalam hubungan saling kebergantungan.
Objek studi geografi pada dasarnya dibedakan menjadi dua, yaitu objek studi material dan objek studi formal.

Objek Studi Material. Objek studi material adalah segala materi yang menjadi kajian dalam geografi. Sesuai dengan pengertian geografi maka yang menjadi objek studi material adalah segala fenomena geosfer, baik fisik maupun sosial. Objek studi material fisik antara lain iklim, tanah, dan air, sedangkan objek studi material sosial antara lain persebaran penduduk, mobilitas penduduk, dan pola permukiman.

Objek Studi Formal. Objek studi formal adalah sudut pandang atau cara berfikir terhadap gejala geosfer sebagai objek material geografi, baik fisik ataupun sosial. Objek studi formal inilah yang selanjutnya dapat membedakan geografi dengan ilmu-ilmu yang lain.

Sudut pandang geografi adalah ruang dan waktu. Sudut pandang ini berbeda dengan sudut pandang ilmu yang lain. Contohnya, sejarah yang menitikberatkan pada waktu (time), antropologi pada budaya (culture), ekonomi pada biaya (cost) dan hukum pada norma (norm, standard). Akan tetapi, ilmu-ilmu tersebut objek materialnya sama, yaitu membahas hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya.

H. Prinsip-Prinsip Geografi

Prinsip-prinsip geografi merupakan dasar untuk menjelasakan berbagai fenomena geografi. Prinsip geografi terdiri atas 4 macam, yaitu prinsip persebaran, interelasi, deskripsi, dan korologi (keruangan).
  • Prinsip persebaran, yaitu bahwa gejala atau fenomena geografi terdapat di mana-mana dan tersebar di permukaan bumi. Gejala atau fenomena geografi tersebut dapat berupa fenomena fisik atau fenomena sosial yang persebarannya tidak merata di permukaan bumi. Misalnya, keadaan sumber air tanah tidak dijumpai di semua tempat atau kemacetan lalu lintas juga tidak dijumpai di semua tempat. Oleh karena itu, untuk mengamati gejala dan fenomena yang tersebar itu diperlukan alat bantu antara lain peta.
  • Prinsip interelasi, yaitu adanya hubungan saling keterkaitan antargejala dalam ruang. Hubungan saling keterkaitan itu dapat terjadi antarfenomena fisik, antarfenomena sosial, serta antara fenomena fisik dan fenomena sosial. Misalnya, terjadinya banjir di wilayah hilir salah satu penyebabnya adalah rusaknya hutan di wilayah hulu akibat perilaku manusia.
  • Prinsip deskripsi, yaitu penjelasan tentang adanya gejala atau fenomena geografi. Persebaran dan hubungan gejala atau fenomena geografi dapat diungkapkan antara lain dalam bentuk data, grafik, dan peta. Ketiga bentuk pengungkapan fenomena tersebut akan lebih jelas apabila diberikan pemaparan atau penjelasan dengan menggunakan rangkaian kalimat.
  • Prinsip korologi, yaitu pengkajian gejala atau fenomena geografi secara menyeluruh (komprehensif) dalam ruang tertentu (spatial). Di dalam prinsip korologi setiap gejala atau fenomena geografi dikaji dengan cara memadukan prinsip-prinsip persebaran, interelasi, dan deskripsi. Hasil pengkajian melalui prinsip korologi menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan gejala, fenomena, dan fakta antarwilayah. Oleh karena itu, akan memberikan corak tertentu sehingga tampak adanya kesatuan gejala, kesatuan fungsi, dan kesatuan bentuk.
Berbagai fenomena geosfer dapat dikaji dalam geografi melalui enam pertanyaan pokok, yaitu what, where, when, why, who, dan how. Keenam pertanyaan tersebut dikenal dengan prinsip 5W 1H.
  1. What untuk mengetahui peristiwa apa yang terjadi.
  2. Where untuk mengetahui di mana peristiwa terjadi.
  3. When untuk mengetahui kapan peristiwa terjadi.
  4. Why untuk mengetahui mengapa peristiwa terjadi.
  5. Who untuk mengetahui siapa yang terlibat dalam peristiwa yang terjadi.
  6. How untuk mengetahui bagaimana solusi atas peristiwa yang terjadi.
I. Ilmu Bantu dan Sarana Bantu Geografi

Dua aspek pokok geografi, yaitu aspek fisik dan aspek sosial dipelajari oleh ilmu-ilmu yang menjadi ilmu penunjang geografi. Ilmu penunjang geografi sangat diperlukan mengingat luasnya bahasan dalam geografi. Ilmu penunjang geografi tersebut antara lain sebagai berikut.
  • Geologi, yaitu ilmu yang mempelajari lapisan batuan penyusun bumi.
  • Geomorfologi, yaitu ilmu yang mempelajari bentuk permukaan bumi dan proses terbentuknya.
  • Pedologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang lapisan tanah, antara lain tentang proses pembentukan dan jenis-jenisnya.
  • Meteorologi, yaitu ilmu yang mempelajari lapisan atmosfer, antar lain tentang ciri-ciri fisik dan kimianya, tekanan, suhu udara, angin, dan per-awanan.
  • Klimatologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang iklim.
  • Antropogeografi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang persebaran manusia di permukaan bumi dalam hubungannya dengan lingkungan geografi.
  • Demografi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang kependudukan, antara lain hubungannya dengan jumlah dan pertum-buhan, komposisi, srta migrasi penduduk.
  • Hidrologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang lapisan air di permukaan bumi, di bawah tanah, dan di atmosfer.
  • Oseanografi, yaitu ilmu yang mempelajari lautan, antara lain tentang sifat air laut dan gerakan air laut.
  • Biogeografi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang persebaran hewan dan tumbuhan di permukaan bumi serta faktor-faktor yang mempengaruhi, membatasi, dan menentukan pola persebarannya.
Untuk mempermudah dalam mempelajari geografi diperlukan sarana bantu, antara lain tabel, diagram, grafik, dan peta. Sarana bantu tersebut digunakan untuk melihat secara tidak langsung atas gejala fisik dan sosial, persebaran, hubungan, serta susunan keruangannya.
Tabel. Tabel menjadi sarana bantu geografi karena memuat data, baik berupa kata, kalimat, ataupun angka tentang fenomena di permukaan bumi. Data tersebut disusun secara bersistem (sistematis), yaitu urut ke bawah atau ke samping dalam lajur dan deret tertentu dan diberi garis pembatas sehingga mudah untuk disimak. 
Informasi yang disusun dalam tabel disesuaikan dengan tema atau topik yang disampaikan, contohnya berikut ini. 
  • Tabel Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administrasi di Indonesia Tahun 2000. 
  • Tabel Kelembapan Udara Rata-Rata Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2000. 
  • Tabel Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2000 
  • Tabel Rumah Sakit dan Kapasitas Tempat Tidur Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2000 
  • Tabel Produksi Jagung Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2000
Diagram. Diagram termasuk sarana bantu geografi yang digunakan untuk menjelaskan fenomena geosfer dengan melukiskan bagian-bagiannya dan cara kerjanya secara berurutan, biasa disebut dengan diagram arus. 
Grafik. Grafik termasuk sarana bantu geografi yang menunjukkan naik dan turun atau pasang surut suatu gejala atau fenomena tertentu antarwaktu dengan menggunakan garis. Sebagai contoh adalah grafik tentang pertumbuhan penduduk dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2000. 
Peta. Peta termasuk sarana bantu geografi karena memuat bermacam-macam data dari permukaan bumi yang dapat diinformasikan. Untuk memudahkan penyampaian informasi, peta dibuat dengan ukuran, tema, dan topik tertentu, antara lain sebagai berikut. 
  • Peta Kepadatan Penduduk Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2000. 
  • Peta Transportasi Laut di Indonesia. 
  • Peta Jenis Tanah di Indonesia. 
  • Peta Geologi di Indonesia. 
  • Peta Objek Wisata di Indonesia
J. Manfaat Geografi

Karena kajian geografi adalah interaksi antara manusia dan lingkungan, maka geografi memberikan manfaat bagi manusia, baik individu maupun kelompok. Di dalam aktivitas pendidikan, geografi memberikan 2 sumbangan yang penting, yaitu sumbangan bersifat pendidikan (pedagogis) dan sumbangan bersifat pembentukan kepribadian.

     1. Sumbangan Pedagogis
  • Wawasan dalam Ruang. Geografi melatih manusia untuk melakukan orientasi di bumi sebagai tempat tinggalnya dan memproyeksikan dirinya dalam ruang. Orientasi dan proyeksi tersebut meliputi semua unsur ruang, yaitu arah, jarak, luas, dan bentuk.
  • Persepsi Relasi Antargejala. Geografi dapat melatih kegiatan pengamatan dan pemahaman hubungan antargejala yang terdapat dalam suatu bentang alam. Oleh karena itu, perlu adanya kegiatan yang bersifat pengamatan lapangan atau kegiatan luar ruang (outdoor). Melalui kegiatan luar ruang tersebut kita dapat mengetahui setiap proses dan pola dari fenomena geosfer.
  • Pendidikan Keindahan. Buku-buku geografi yang dilengkapi dengan gambar-gambar tentang fenomena geosfer dapat menumbuhkan rasa kecintaan terhadap keindahan alam. Namun, pengamatan langsung terhadap fenomena alam yang umum terdapat di lingkungan sekitar dapat lebih meningkatkan kecintaan tersebut.
  • Kecintaan Terhadap Tanah Air. Geografi mengajak kita untuk menyadari tentang kekayaan dan kemiskinan sumber daya di tempat tinggal kita. Geografi berusaha menjelaskan potensi sumber daya yang ada di setiap wilayah sehingga dapat dimanfaatkan secara bijaksana. Potensi sumber daya tersebut tentu saja diupayakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik masa sekarang ataupun masa yang akan datang.
  • Pemahaman Global. Geografi memberikan wawasan tentang wilayah-wilayah yang lebih luas selain wilayah tempat tinggal kita. Kita dikenalkan pada sifat dan karakter tempat lain sehingga kita dapat menilainya sesuai dengan sifat dan karakternya. Pemahaman terhadap wilayah global ini dapat memupuk sifat salingmenghargai dan menghormati antarbangsa.
     2. Pembentukan Kepribadian
  • Kita dapat mengerti permasalahan sosial yang sangat kompleks sebagai akibat adanya perbedaan dalam lingkungan.
  • Kita dapat menghargai adanya fakta gejala geografi sehingga akan lebih memperhatikan berbagai masalah, baik lokal ataupun global.
  • Kita dapat mengetahui ketersediaan sumber daya alam yang perlu dimanfaatkan.
  • Kita dapat menghargai kondisi perekonomian dan kultural yang saling bergantung antardaerah.
  • Kita dapat membentuk pribadi melalui refleksi atas lingkungannya dengan lingkungan orang lain.
Di dalam kehidupan sehari-hari geografi memiliki manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia, meskipun manfaat tersebut tidak secara langsung dirasakan manusia. Contoh manfaat ilmu geografi dalam kehidupan sehari-hari antara lain sebagai berikut.
  • Bidang PertanianKebiasaan petani dalam memulai bercocok tanam, meskipun secara tradisional, sebenarnya sudah menunjukkan bahwa petani tersebut menggunakan ilmu geografi. Perhitungan terhadap musim, jenis tanah, dan sistem pengairan merupakan contoh bahwa geografi memiliki peran yang sangat penting dalam bidang pertanian. 
  • Bidang Industri. Pemilihan lokasi industri umumnya mempertimbangkan faktor biaya, baik biaya untuk bahan baku, proses produksi, maupun distribusi. Di dalam pemilihan lokasi industri tersebut faktor jarak menjadi pertimbangan yang sangat penting, baik jarak untuk memperoleh bahan baku maupun untuk pemasarannya. Saat ini lokasi industri telah dikelola sedemikian rupa sehingga berdiri pemusatan lokasi perindustrian berupa kawasan-kawasan industri. Faktor jarak merupakan contoh bahwa geografi sangat penting dalam bidang industri. dll.

-------------------- 


Pola Keruangan Kota

1.   Pengertian Kota
Dalam masyarakat yang modern seperti sekarang ini, yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi disegala bidang kehidupan, sering kita bedakan ruang tempat tinggal manusia itu menjadi wilayah perkotaan dan pedesaan. Sedangkan wilayah perkotaan merupakan wilayah pusat-pusat dari kegiatan manusia di luar sektor pertanian, seperti pusat industri, perdagangan, sektor jasa, dan pelayanan masyarakat, pendidikan, pemerintahan, dan sebagainya sehingga dalam kehidupan sehari-harinya, kota terlihat sangat sibuk. Tingkat pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan masyarakat kota umumnya lebih tinggi bila dibandingkan dengan daerah pedesaan.
Pada hakekatnya kota itu lahir dan berkembang dari suatu wilayah pedesaan yang sebelumnya merupakan panorama alamiah berupa sawahan, kebun atau daerah perbukitan dengan kesejukan udara dan keindahan alamnya telah diubah oleh manusia menjadi bangunan-bangunan Perkantoran, perumahan, pasar, pusat-pusat pertokoan dan tempat-tempat fasilitas lainnya.

Menurut  R.Bintarto, kota merupakan sebuah bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alamiah yang cukup besar dan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistik dibandingkan dengan daerah disekitarnya.

Menurut Grunfeld, kota adalah suatu pemukiman dengan kepadatan penduduk lebih besar dari pada kepadatan wilayah nasional, dengan struktur mata pencaharian non agraris dan system penggunaan tanah yang beraneka ragam serta ditutupi oleh gedung-gedung tinggi yang lokasinya sangat berdekatan.
Berdasarkan peraturan mentri Dalam Negeri RI Nomor 4 tahun 1980, pada hakekatnya kota mempunyai 2 macam pengertian, yaitu:
  • suatu wadah yang memiliki batasan administratif wilayah, seperti kotamadya dan kota administratif sebagaimana telah diatur oleh perundang-undangan. Misal: Kotamadya Malang, kota administratif Jember, Bekasi dan sebagainya.
  • sebagai lingkungan kehidupan perkotaan yang mempunyai ciri non agraris, misalnya ibukota kabupaten, ibukota kecamatan yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan dan pusat pemukiman.
2.   Ciri-Ciri Fisik Kota
Berbeda dengan fisik wilayah pedesaan yang banyak didominasi oleh lahan pertanian, daerah perkotaan dicirikan oleh pola penggunaan lahan yang lebih banyak merupakan bentang budaya hasi karya manusia, seperti gedung-gedung, kompleks perumahan penduduk, jalur jalan raya, dan sebagainya. Sangat sulit kita temui wilayah-wilayah yang masih alamiah. Beberapa contoh bentang budaya yang menjadi ciri fisik yang khas bagi daerah pekotaan, terutama di kota-kota besar antara lain:
  • Wilayah perkotaan, supermarket, gedung-gedung perkantoran dan gedung-gedung fasilitas hiburan. Kompleks-kompleks bangunan tersebut biasanya terletak di pusat kota. Setiap hari daerah kota ini senantiasa sibuk sebab merupakan pusat kegiatan ekonomi penduduk baik di sektor perdagangan maupun di sektor pelayanan dan jasa. Di wilayah pusat kota besar banyak kita jumpai pusat perbelanjaan yang menyediakan kebutuhan masyarakat yang tinggal didaerah sekitarnya. Berdasarkan kemampuannya dalam melayani penduduk yang dating untuk berbelanja, Arthur B. Gallion dan Simon Eisner mengklasifikasikan pusat perbelanjaan dalam tiga kelompok, yaitu:Neighborhood Centre, yaitu pusat perbelanjaan yang memiliki kapasitas untuk melayani penduduk kota sekitar 7.500 sampai 20.000 orang. (a). Community Centre,yaitu  pusat perbelanjaan yang mampu melayani penduduk kota sekitar 20.000 sampai 100.000 orang. (b). Regional Centre, yaitu pusat perbelanjaan yang melayani penduduk kota sekitar 100.000 sampai 250.000 orang. (c). Gedung-gedung pemerintahan, baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah
  • Alun-alun yang terletak di pusat kota. Menurut sejarahnya alun-alun berfungsi sebagai tempat pertemuan raja (pemerintah) dengan rakyatnya, namun pada saat ini fungsinya sudah mulai berubah menjadi tempat istirahat atau jalan-jalan masyarakat yang mengunjungi pusat kota.
  • Tempat parkir kendaraan penduduk. Tempat parkir kendaraan ada yang secara khusus dislokalisasi di tempat tertentu namun ada pula yang disediakan di pinggiran jalan.
  • Sarana rekreasi masyarakat, terdiri atas rekreasi pendidikan (misalnya musium dan planetarium) sarana rekreassi hiburan seperti gedung film atau tempat-tempat hiburan lainnya, dan sarana rekreasi olah raga, seperti kolam renang.
  • Sarana olahraga misalnya sport centre, gelora, dan lapangan sepak bola.
  • Open space, yaitu daerah terbuka yang berfungsi sebagai paru-paru kota, biasanya berupa green belts atau jalur-jalur hijau, yakni pohon-pohon yang ditanam di sepanjang jalan, serta city gardens atau taman kota.
  • Kompleks perumahan penduduk yang terdiri atas : (a). Daerah pemukiman kumuh (slums area) yang dihuni oleh penduduk kota yang gagal atau kalah bersaing dengan penduduk lainnya dalam pencapaian tingkat kehidupan yang layak. Daerah kumuh ini ditandai oleh kondisi rumah yangtidak layak huni, kualitas lingkungan yang kotor dan jorok, dihuni oleh sebagian penduduk yang keadaan ekonominya pas-pasan bahkan miskin, serta tingkat kriminalitas didaerah tersebut relatif tinggi, seperti pencurian, perkelahian antar anggota masyarakat dan lain-lain. (b). Daerah pemukiman masyarakat ekonomi lemah sampai menengah, misalnya rumah sangat sederhana (RSS), rumah susun sederhana dan rumah-rumah BTN tipe kecil. (c). Daerah pemukiman masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas, seperti rumah-rumah BTN tipe besar, rumah real estate dan apartemen mewah atau kondominium.
3. Ciri-Ciri Masyarakat Kota

Masyarakat kota merupakan kelompok penduduk yang anggotanya sangat heterogen terdiri atas masyarakat dari beberapa lapisan atau tingkatan, seperti tingkst pendidikan, status social ekonomi dan daerah asal atau kampong halamannya. Penduduk kota dapat dibedakan atas penduduk asli kota dan para imigran, yaitu penduduk desa yang datang kekota untuk tujuan-tujuan tertentu seperti melanjutkan sekolah atau bekerja.
Beberapa ciri masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan, antara lain :
  • Adanya heterogenitas sosial, artinya bahwa masyarakat yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sangat beranekaragam. 
  • Sikap hidup penduduk bersifat egois dan individualistik. Artinya bahwa kebanyakan penduduk kota cenderung lebih memikirkan diri sendiri tanpa mempedulikan anggota masyarakat lainnya. Sikap individualistik ini terjadi akibat persaingan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari antara sesama aggota masyarakat kota sangat tinggi, sehingga masing-masing penduduk disibukkan oleh kepentingan pribadi tanpa harus bergantung pada lorang lain.
  • Hubungan sosial yang bersifat gesselschaft yang artinya bahwa hubungan sesama anggota masyarakat sangat terbatas pada bidang-bidang tertentu saja. Hubungan sosial ini tidak didasarkan pada sifat kekeluargaan atau gotong royong, tetapi lebih didasarkan pada hubungan fungsional, misalnya antara buruh dan majikan, antara sesama karyawan, rekan sejawat, atasan dan bawahan antara teman-teman satu sekolahan dan sebagainya.
  • Adanya segregasi keruangan. Segregasi yaitu pemisahan yang dapat menimbulkan kelompok-kelompok atau kompleks-kompleks tertentu. Contohnya antara lain kompleks pegawai negri sipil, kompleks perumahan tentara, kompleks pertokoan, daerah pecinan, kampung arab, kampung melayu, dan sebagainya. Sebenarnya segregasi ini timbul akibat adanya heterogenitas sosial.
  • Norma-norma keagamaan tidak begitu ketat.
  • Pandangan hidup masyarakat kota lebih rasional dibanding masyrakat desa. Hal ini karena masyarakat kota lebih terbuka dalam menerima budaya baru. Selain itu, laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerah perkotaan cepat diterima masyarakat. 
4. Klasifikasi Kota
Sistem penggolongan atau pengklasifikasian kota dapat didasarkan atas beberapa faktor, misalnya jumlah penduduk yang tinggal di suatu kota, fungsi kota ataupun luas kota. Biasanya sistem penggolongan yang dilakukan oleh suatu negara tidak sama dengan negara lainnya. Hal ini berhubungan dengan tingkat kemajuan pembangunan yang telah dicapai serta jumlah penduduk negara yang bersangkutan. Selain itu masih banyak istilah-istilah yang berhubungan dengan kota yang kerap kali membingungkan, seperti city, town, dan urban. City dapat diartikan sebagai kota, town adalah kota kecil, sedangkan urban atau wilayah perkotaan mempunyai pengertian sebagai suatu daerah yang memiliki suasana kehidupan kota. Jadi walaupun letaknya di pinggiran kota, namun apabila daerah tersebut telah memperlihatkan tanda-tanda kehidupan penduduknya yang menyerupai masyarakat kota, maka daerah tersebut dinamakan wilayah perkotaan.
Secara umum klasifikasi kota dapat dibedakan atas :
a. Klasifikasi kota secara numerik (Kuantitatif). Adalah cara penggolongan kota yang didasarkan atas unsur-unsur kuantitas (jumlah) yang terdapat di kota tersebut, seperti jumlah penduduk, kepadatan penduduk, luas wilayah kota ataupun perbandingan jenis kelamin (sex ratio) penduduk yang tinggal di daerah tersebut. Kiasifikasi numerik ini  banyak digunakan dalam menentukan tingkat perkembangan suatu kota, walaupun belum ada standar yang berlaku secara umum di semua negara. Misalnya saja untuk negara Swedia, apabila suatu daerah telah memiliki jumlah penduduk sebanyak 200 jiwa, maka daerah tersebut sudah dapat dikatakan kota. Untuk negara Amerika Serikat dan Meksiko, batas minimal suatu daerah dikatakan kota adalah jika telah dihuni oleh 2.500 jiwa, sedangkan di Canada adalah 1.000 jiwa.
Sistem penggolongan kota secara kuantitatif berdasarkan gejala pemusatan penduduk yang paling umum kita jumpai ialah yang dibuat oleh C. Doxiadis dan N.R. Saxena. Doxiadis mengklasifikasikan tingkat perkembangan kota berdasarkan gejala pemusatan penduduk menjadi 12 tahapan, yaitu:

   No

Nama Tahapan Kota
Jumlah Penduduk Minimal
1.      
Dwelling Group

40 orang
2.     
Small Neighborhood
250 orang
3.     
Neighborhood
1.500orang
4.     
Small Town
9.000 orang
5.     
Town
50.000 orang
6.     
Large City
300.000 orang
7.     
Metropolis
2.000.000 orang
8.     
Conurbation
14.000.000 orang
9.     
Megalopolish
100.000.000 orang
10.  
Urban Region
700.000.000 orang
11.   
Urban Continent
5.000.000.000 orang
12.  
Ecumenepolish
       30.000.000.000 orang

Menurut N.R saxena tahapan pemusatan penduduk kota adalah sebagai berikut:
  1. Infant  Town dengan jumlah  penduduk 5.000 sampai dengan 10.000 orang.
  2. Township yang  terdiri atas adolescent  township, mature township dan specialized township dengan jumlah penduduk antara  10.000 s/d  50.000 orang.
  3. Town city  terdiri atas adolescent  town, mature town, specialized town dan adolescent city dengan jumlah penduduk berkisar  100.000 s/d  1.000.000 orang.
Pemerintah  Republik  Indonesia  membuat penggolongan kota berdasarkan jumlah penduduk sebagai berikut (diolah dari Urban Population Growth of Indonesia, 1980-1990):
  1. Kota kecil, jumlah penduduk antara 20.000 s/d 50.000 orang jiwa. Contohnya Padang panjang (32.104 orang), Banjaran (48.170 orang).
  2. Kota sedang, jumlah penduduk antara 50.000 s/d 100.000 jiwa. Contohnya Sibaloga (71.559 orang), Bukit Tinggi (71.093 orang), Mojokerto (96.626 orang), Palangkaraya (99.693 orang) dan Gorontalo (94.058 orang).
  3. Kota besar,jumlah penduduk  antara 100.000 orang sampai dengan 1.000.000 orang. Contoh: Padang 477.064 orang; Jambi  301.430 orang; Cirebon 244.906 orang;Surakarta 503.827 orang; Kediri 235.333 orang.
  4. Metropolis, jumlah penduduk di atas 1.000.000 jiwa. Contoh: Jakarta dengan jumlah penduduk 8.222.515 orang; Bandung dengan jumlah penduduknya 2.125.159 orang,Surabaya 2.410.417 orang dan Medan dengan jumlah penduduk 1.685.272 orang.
b. Klasifikasi Kota Secara Non Numerik (Kualitatif). Sistem klasifikasi kota secara  non numerik dapat di artikan sebagai penggolongan yang di dasarkan atas unsur-unsur kualitatif dari suatu kota, kondisi social penduduk dan sebagainya:
  • Tahap Eopolis, yaitu tahap perkembangan desa yang sudah teratur , sehingga organisasi masyarakat penghuni daerah  tersebut sudah mulai memperlihatkan ciri-ciri perkotaan. Tahapan ini merupakan peralihan daari pola kehidupan desa yang tradisional kearah kehidupan kota.
  • Tahap Polis, yaitu tahapan dimana suatu daerah kota yang masih bercirikan sifat-sifat agraris atau berorientasi pada sektor pertanian. Sebagian besar kota-kota di Indonesia masih berada di tahap ini.
  • Tahap Metropolis, yaitu kota merupakan kelanjutan dari tahap polis. Tahapan ini ditandai oleh sebagian besar orientasi kehidupan ekonomi penduduknya mengarah kesektor industri. Kota- kota di Indonesia yang tergolong  pada tahapan metropolis adalah Jakarta, Bandung dan Surabaya.
  • Tahap Megapolis (kota maha besar) yaitu suatu wilayah perkotaan yang ukurannya sangat besar,biasanya terdiri atas beberapa kota metropolis  yang menjadi satu sehingga membentuk  jalur perkotaan. Balam beberapa segi kota megapolis telah mencapai titik tertinggi dan memperlihatkan tanda-tanda akan mengalami penurunan kualitas. Contah Bos-Wash (jalur kota Boston sampai dengan Wasington di Amerika Serikat). San-san (jalur kota San Diego sampai San Fransisco di Amerik Serikat), Randstad Holland mulai kota Doordecht  sampai Archem  di Netherland.
  • Tahap Tryanopolis, yaitu tahapan kota yang kehidupannya sudah di kuasai oleh triani, kemacetan-kemacetan,kekacuan pelayanan, kejahatan, dan kriminalitas yang bias terjadi.
  • Tahap Nekropolis, yaitu tahapan perkembangan kota yang menuju ke arah kematiannya.
Selain berdasarkan  tahapan perkembangannya, kota  juga masih dapat digolongkan dengan memperhatikan fungsi sosialnya. Sistem penggolongan kota atas dasar fungsi sosialnya bersifat relatif, maksudnya adalah bahwa fungsi kota di permukaan bumi tidak bersifat tetap untuk selamanya. Ada kalanya  sebuah kota akan beralih fungsi, misalnya dari sebuah kota pusat perdaganan menjadi pusat industri. Selain itu dapat pula terjadi sebuah kota memiliki fungsi lebih satu,misalnya kota Jakarta sebagai sebuah kota memiliki  fungsi lebih dari satu, misalnya kota Jakarta sebagai pusat pemerintahan  dan  pariwisata. Berdasarkan fungsinya kota dapat di bedakan:
  • Kota Pusat Produksi yaitu kota yang berfungsi sebagai pemasok barang-barang yang di butuhkan oleh wilayah lain. Barang-barang yang di suplay oleh kota produksi dapat berupa bahan mentah dan atau barang setengah jadi. Karena itu kota pusat produksi dapat dibedakan atas kota penghasil bahan mentah, seperti Bukit Asam dan Obilin (batubara), Bontang (LNG), Mojokerto (yodium) serta kota industri manufaktur (mengubah bahan mentah menjadi barang jadi dan setengah jadi) seperti Cilegon (industri besi dan baja), Bandung Raya (industri tekstil), Yokohama, Nagoya, Kobe dan Horoshima (industri berat).
  • Kota pusat perdagangan baik yang bersifat lokal maupun regional dan internasional. Contoh: Bremen pusat perdagangan tembakau, Singapura pusat perdagangan internasional, Philadelphia, pusat pelabuhan di Pantai Atlantik yang mengekspor batubara dan baja, Richmond pelabuhan perdagangan di USA yang banyak mengekspor tembakau dan kota-kota perdagangan di Indonesia.
  • Kota pusat pemerintahan: ibukota suatu negara merupakan contoh paling jelas untuk melihat fungsi kota sebagai pusat pemerintahan. Biasanya kantor-kantor lembaga tinggi beserta kantor pemerintahan tingkat pusat terdapat di ibukota negara yang bersangkutan. Contoh: Jakarta, Berlin, London, Istambul dan sebagainya.
  • Kota pusat kebudayaan, biasanya sangat berhubungan dengan adat istiadat yang berlaku pada masyarakat setempat. Misalnya kesenian tradisional, tata cara keagamaan, atau bentuk-bentuk budaya yang lainnya yang masih dipegang teguh oleh penduduk setempat. Contoh: beberapa kota di propinsi Bali, Yogyakarya, Surakarta dan beberapa kota di India sebagai pusat agama dan kebudayaan Hindu, Roma dan Vatikan sebagai pusat agama dan kebudayaan Kristen Katolik, serta Mekah sebagai kota pusat agama dan kebudayaan Islam.
5. Pengertian Perkembangan Kota
Bila kita membicarakan tentang perkembangan kota, maka berarti kita dihadapkan pada dua aspek. Pertama aspek yang menyangkut perubahan–perubahan yang dikehendaki dan yang dialami oleh warga kota. Kedua aspek yang menyangkut perluasan atau pemekaran kota.

Cara dan skala pemekaran daerah perkotaan pada masa sekarang sudah berbeda dengan masa–masa dahulu. Pada masa dahulu pemekaran daerah perkotaan akan mengikuti pola dari inti kotanya. Jadi apabila inti kotanya akan berbentuk persegi maka pemekarannya sedikit banyak juga akan berbentuk persegi. Lain halnya dengan keadaan sekarang, bentuk pemekarannya dapat berbentuk bebas, apabila dengan perkembangan industri dan teknologi modern.

Perkembangan kota yang dialami ditimbulkan karena kebutuhan dan keinginan warga kota yang selalu berkembang sebagai akibat dari adanya pertambahan warga kota yang selalu berkembang sebagai akibat dari adanya pertambahan penduduk, kejuan pendidikan, kemajuan kebudayaan dan sebagainya. Sebagai sebab yang lain adalah karena kota–kota mempunyai kontak atau hubungan keluarbaik nasional maupun internasioanal. Hubungan ini dapat mempengaruhi gagasan–gagasan warga kota dalam cara–cara mengembangkan kotanya, terutama dibidang pengaturan tata ruang kota.

Demikian pula unsur–unsur geografi seperti topografi, tanah, sumber air dan sebagainya tidak luput dari penyebab timbulnya kota dan perkembangannya. Mengikuti tahap–tahap perkembangan kota sejak sebelum masehi sampai zaman modern, perkembangannya tidak hanya dalam arti kuantitatif seperti jumlah penduduk, bertambahnya bangunan dan jalur–jalur transportasi, tetapi juga dalam arti kualitatif yaitu terjadinya atau terbentuknya berbagai organisasi dan kelembagaan yang ikut menghidupkan kota.
Sebagai salah satu konsekuensi dari adanya pekembangan ini, maka perencanaan pengembangan kota harus menjadi program utama. Hal ini sangat penting, mengingat bahwa adanya urbanisasi yang ternyata banyak menimbulkan masalah–masalah sosial ekonomi di kota. Masalah–masalah tersebut perlu diatasi dengan sebaik-baiknya.

Masalah–masalah dalam kehidupan dan penghidupan di kota makin berlipat ganda. Pemekaran fisik di kota–kota sudah nampak sulit dikendalikan. Keramaian atau kongesti yang kemudian timbul di kota–kota menjadi masalah utama dalam kelalulintasan.

Kemacetan–kemacetan dalam lalu lintas ini akan dapat menghambat arus barang, arus kontak ekonomi dan kontak sosial. Dengan perkembangan kota ini banyak dihadapi segi–segi positif, tetapi juga segi–segi negatif. Gedung–gedung bertamabah, hotel mewah bertambah, pasar bertamabah tetapi angka kriminalitas dan angka kecelakaan juga bertambah. Oleh karena itu sangat dibutuhkan para ahli dan para perencana kota dan pemimpin-pemimpin kota untuk memikirkan secara terperinci dan menyeluruh mengenai proses perkembangan kota.

6. Tanda–Tanda Perkembangan Kota
Sebagai tanda–tanda perkembangan kota dapat dilihat dari perluasan atau ekspansi kota dari suatu proses waktu. Dari berbagai kenyataan dapat diketahui bahwa kota–kota di dunia sebenarnya tidak mati, tetapi hidup, semakin lama semakin luas daerah jangkauannya. Dengan demikian dapatlah terjadi kota–kota gabungan yang dikenal dengan konurbasi. Gejala konurbasi ini mungkin juga akan terjadi dengan beberapa kota di Jawa. Mungkin jakarta dengan bogor, batu dengan malang, mungkin pula purwokerto dengan cilacap dan sebagainya.

Dalam proses konurbasi ini, maka daerah–daerah yang disebut selaput inti kota meluas terus ke arah luar. Bersamaan dengan itu pula selaput inti kota lain juga mengalami ekspansi. Kemudian kedua batas kota akhirnya akan bertemu dan dengan demikian akan terjadi semacam peleburan antara dua daerah perkotaan dengan dua inti kota. Konurbasi ini dapat pula terbentuk anatara beberapa daerah perkotaan dengan tiga nucleus atau lebih. Kejadian ini disebut dengan konurbasi ”sruktur polinukleus”.

Kota kembar atau twin towns, twin cities dapat pula dipakai petunjuk adanya perkembangan daerah kekotaan. Bedanya dengan konurbasi adalah kota kembar itu memiliki corak pelayanan yang sama. Biasanya kota–kota itu merupakan kota–kota industri kecil, kota–kota rekreasi atau kelompok pemukiman yang bergabung, tetapi tidak sampai dapat membentuk satu fokus.

Pemekaran kota pada umumnya digerakan oleh pengaruh dari dalam dan pengaruh dari luar. Pengaruh-pengaruh dari dalam berupa rencana-rencana pengembangan dari para perencana kota, desakan-desakan warga kota akibat dari angka kelahiran. Pengaruh dari luar berupa berbagai daya tarik dari daerah belakang kota atau hinterland  kota. Apabila kedua pengaruh itu bekerja pada saat yang sama, maka pemekaran kota akan terjadi lebih cepat.

Adanya perkembangan kota juga dapat dilihat pada perubahan struktur yaitu dengan terjadinya perubahan dari struktur agraris ke struktur yang non agraris. Demikian pula nampak pada cara pnduduk kota menggunakan gedung atau perumahan mereka. Pada semula perubahan-perubahan mereka atau gedung-gedung di kota hanya mempunyai fungsi tunggal, tetapi sekarang sudah mempunyai fungsi lebih dari satu. Misalnya saja perubahan di pinggir jalan besar yang digunakan untuk tempat tinggal dan sekaligus untuk tokohnya atau rumah makan atau travel service dan sebagainya.

7. Pengaruh-Pengaruh Terhadap Perkembangan Kota
Pengaruh-pengaruh dasar terhadap perkembangan kota adalah keadaan fisiografi dan sosiografi di sekitar daerah kekotaan tersebut, sedang pengaruh-pengaruh utam adalah latar belakang sejarah dan sumber-sumber alam. Pengaruh-pengaruh utama dan pengaruh-pengaruh dasar adalah pengaruh yang dapat menunjang perkembangan suatu daerah perkotaan. Empat unsur pengaruh di atas yaitu keadaan fisiografi, keadaan sosiografi, latar belakng sejarah dan sumber-sumber alam menjadi faktor pendorong perkembangan kota yang kuat, apabila keempat unsur tersebut terdapat bersamaan dalam sebuah daerah kekotaan. Tentu saja sangat perlu diperhatikan unsur manusianya, sebab tanpa manusia yang dinamis kreatif dan tekun, kota tidak akan maju dan berkembang. Dengan bekerja sama antara empat unsur ini yang dikelola manusia maka timbullah kepribadian kota yang disebut oleh Sven Riemer dengan istilah Urban Personality.
  1. Unsur Letak Unsur letak sangat menetukan ada tidaknya perkembangan kota. Letak kota yang strategis, misalnya letak persimpagan jalan, letak di pertemuan dua aliran sungai, letak lembah-lembah yang subut, di daratan aluvial akan memberi pengaruh positif pada perkembangan kotanya. Lebih-lebih kota di pantai, kota-kota de titip api lalu lintas perdagangan singapura, jakarta, medan, surabaya adalah kota-kota yang sibuk dengan kegiatan perdagangan dan sekaligus merupakan kota pelabuahan yang maju. Sebaliknya kota-kota yang terletak di pedalaman jauh dari pintu gerbang yang menghubungkan kota itu dengan dunia luar. Kota-kota seacam ini dapat berkembang apabila ada pelabuhan udaranya, sehingga hubungan yang tertutup tadi menjadi lebih terbuka, seperti kota Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Bandung dan sebagainya.
  2. Unsur Iklim dan Relief. Kota-kota yang terlalu basah atau terlalu kering tidak berkembang. Demikian pula kota-kota daerah perbukitan atau pegunungan, pemekaran dibatasi oleh rintangan alami atau natural barries. Tetapi unsur-unsur perintang ini pada masa sekarang tidak lagi merupakan penghambat mutlak. Hambatan-hambatan tersebut dikurangi dengan adanya kemajuan di bidang teknologi seperti adanya jembatan-jembatan, terowongan-terowongan yang dapat menghubungkan kota-kota terisolir dengan daerah di luar. Sebaliknya sebuah kota yang mempunyai elief datar akal mempunyai jaringan jala yang padat sehingga perkembangan kotanya dapat diharapkan berkembang dengan cepat. Apabila kalau kota-kota tersebut mempunyai iklim yang sejuk dan lebih-lebih lagi kalau unsur manusianya memiliki taraf teknologi dan budaya yang cukup tinggi, maka kota-kota tersebut akan merupakan kota yang mnyenagkan.
  3. Unsur Sumber Alam. Tambang minyak, gas, batuan, bauksit atau tanbang-tangbang lainnya merupakan pemacu bagi tumbuhnya kota-kota yang baru dan kota-kota baru tersebut akan mengalami perkembangan yang cepat. Seperti beberapa kota di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang dan juga beberapa kota di Indonesia. Kota-kota tersebut merupakan kota-kota industri. Kegiatan dibidang perdagangan akan timbul, sehingga kota-kota tersebut akan banyak menarik penduduk dari luar. Mereka bekerja dan akhirnya menetap di kota-kota tersebut. Dengan demikian maka selanjutnya kaota bertambah dan mengalami pemekaran.
  4. Unsur Tanah. Revolusi agraris yang menyangkut pengolahan dan penggunaan tanah secara efisien dan sistem trnsportasi yang mengimbangi revolusi agraris tersebut merupakan faktor pendorong bagi kota-kota kecil di tengah-tengah tanah pertaniannya. Lebih-lebih di daerah-daerah yang tanahnya subur maka hasil pertaniannya akan cukup membiayai pembangunan kota. Sebalikya di daerah-daerah yang tandus tanamanya dan tandus barang tambang tidaklah dapat diharapkan adanya perkembangan kota.
  5. Unsur Demografi dan Kesehatan. Kesehatan penduduk akan mempengaruhi angka kelahiran. Angka kelahiran yang tinggi dapat dicegah karena cukupnya rumah-rumah sakit dan tenaga medis. Kota yang seha dan bersih dapat pula menarik penduduk dari luar kota. Dengan keadaan demikian kota-kota yang memiliki kebersihan dan lingkungan yang sehat akan dapat berkembang.
  6. Unsur Kebudayaan dan Pendidikan. Kota-kota yang memiliki berbagai jenis sekolah, kegiatan dan berbagai jenis kegiatan serta sumber kebudayaan akan menjadi kota yang amat menarik bagi pelajar, mahasiswa, budayawan dan para wisatawan. Misalnya kota Malang, dikenal sebagai kota pelajar. Arus pelajar dan mahasiswa tiap tahun bertambah. Kotanya menjadi makin padat dan pemekaran kota menjadi pusat pemikiran para perencana kota dan pemimpin setempat. Lokasinya di daerah pegunungan sehingga sangat menguntungkan para pelajar karena suasananya tenang dan menyegarkan, yang merupakan salah satu syarat keberhasilan studi.
  7. Unsur Teknologi dan Elektrifikasi. Kemajuan dibidang teknologi sangat mempengaruhi dunia industri, Revolusi Industri dan elektrifikasi menyebabkan orang bebas memilih tempat tinggal. Radio, televisi dan alat-alat pengangkutan bermotor mempunyai peranan penting yang tidak dapat diabaikan dalam proses perkembangan kota. Daerah kekotaan atau urban areas dapat menjadi lebih luas, karena faktor jarak tidaklah menjadi masalah penghambat lagi.
  8. Unsur Transportasi dan Lalu Lintas. Jalur jalan dalam kota dan jalur-jalur penghubung kota dengan daerah di sekitar kota sangat berpengaruh dalam ikut meningkatkan arus manusia dan arus barang antar kota. Asesbilitas kota menjadi semakin besar dan dengan demikian sangat membuka kemungkinan terjadinya konurbasi atau pemekaran kota ke berbagai arah. Kota-kota yang terletak pada fokus lalu lintas yang ramai baik darat, laut maupun udara akan mengalami perkembangan yang cepat.
8. Stadia Perkembangan Kota
Dari kesan uraian-uraian di atas, maka kelihatan bahwa kota-kota di dunia ini berkembang secara bertahap. Kritenia mengenai stadia perkembangan kota tentunya bermacam-macam. Salah satu menurut Griffith Taylor, yaitu:
  • Stadia Infantile. Dalam stadia ini antara daerah domestik dan daerah-daerah perdagangan tidak nampak ada pemisah. Demikian pula antara daerah-daerah miskin dengan daerah-daerah yang didiami para wartawan. Batas-batas kelompok masih sukar digambarkan. Selain daripada itu toko-toko dan perumahan pemilik toko masih menjadi satu sehingga dapat mengganggu jalannya penjualan. Apalagi jika toko-toko itu dan perumahan itu terdapat di sepanjang jalan yang ramai. Dalam keadaan yang demikian lalu lintas menjadi sangat terganggu. Trotoar dan jalur jalan sempit yang ada di muka toko akan menjadi arena permainan anak-anak kecil.
  • Stadia Juvenile. Dalam situasi ini dapat dilihat bahwa kelompok perumahan tua sudah mulai terdesak oleh kelompok perumahan-perumahan baru. Pemisah antara daerah pertokoan dengan daerah pemukiman sudah dapat dilihat dalam stadia ini.
  • Stadia Mature. Dalam stadia ini banyak timbul daerah-daerah baru, misalnya saja daerah-daerah industri, perdagangan berserta perumahannya yang sudah mengikuti suatu rencana tertentu.
  • Stadia Senile. Stadia ini dapat pula disebut stadia kemunduran kota, karena dalam stadia ini nampak bahwa dalam tiap zone terjadi kemunduran-kemunduran karena kurang adanya pemeliharaan yang mungkin dapat disebabkan oleh sebab ekonomis, politis, ataupun sebab-sebab lainnya.
Stadia-stadia tersebut di atas mungkin untuk beberapa kota dapat berlaku, tetapi kadang-kadang juga tidak. Kemajuan teknologi dan kemajuan budaya manusia telah dapat berusaha mengurangi atau menghambat proses ketuaan “aging process”.

9. Pemekaran Kota dan Permasalahannya
Pemekaran kota adalah kenampakan luar dari perkembangan yang terjadi di dalam kota. Pemekaran kota adalah suatu hasil resultante dan proses-proses kehidupan yang terjadi di dalam kota. 

Bertambahnya penghuni kota baik yang berasal dari penghuni kota maupun dari arus penduduk yang masuk dan luar kota mengakibatkan bertambahnya perumahan-perumahan yang berarti berkurangnya daerah-daerah kosong di dalam kota. Semakin banyaknya anak-anak kota yang menjadi besar, semakin banyak pula diperlukan gedung-gedung sekolah. Bertambahnya pelajar dan mahasiswa berarti juga bertambahnya sepeda dan kendaraan bermotor roda dua. Toko-toko, warung makanan atau restoran bertambah terus sehingga makin mempercepat habisnya tanah-tanah kosong di dalam kota. Di kota-kota yang sudah maju, kota tidak hanya meluas secara mendatar tetapi juga menegak. Gedung-gedung bertingkat merupakan ciri-ciri khas untuk kota yang modern.

Masalah-masalah yang ditimbulkan sebagai akibat pemekaran kota adalah masalah perumahan, masalah sampah, masalah lalu lintas, kekurangan gedung sekolah, terdesaknya derah persawahan di perbatasan luar kota dan masalah administratif pemerintahan. Masalah-masalah yang banyak ini kemudian mendesak para perencana dan pengatur kota untuk segera dapat mengatasi masakth-masalah tersebut. Masalah yang bersifat fisik ini ternyata juga bersangkut paut dengan masalah sosial ekonomi.

Kurangnya data tampung perumahan bagi penduduk berpenghasilan kecil atau minim dan bagi para penganggur dan luar kota dapat memperluar daerah-daerah slum dan menambah jumlah orang-orang yang disebut para gelandangan. Kemudian timbul dan keadaan tersebut di atas pelbagai bentuk kriminalitas dan polusi yang sangat mengganggu ketenangan kota. Dengan demikian nampak bahwa gejala-gejala fisik, sosial, ekonomi yang negatif ini ditimbulkan karena makin berkurangnya daya tampung kota.

Segi positif dari perkembangan kota ada, misalnya mudahnya berpegian dengan kendaraan bermotor, mudahnya berhubungan dengan telepon,  mudahnya mendapat hiburan di gedung biskop dan masih banyak lagi. Pemekaran kota mempunyai arah yang berbeda-beda tergantung pada kondisi kota dan kondisi sekitarnya.

Daerah perbukitan, lautan dan rintangan-rintangan alam lanilla dapat menghentikan lajunya perkembangan kota maupun pemekaran kota. Daerah-daerah ini di anggap sebagai “daerah lemah”. Daerah lemah pemekaran ini merupakan tempat-tempat dimana proses pemekaran kota tidak dapat berkembang atau boleh dikatakan berhenti. Daerah-daerah yang memiliki potensi ekonomi yang baik akan merupakan daerah yang mempunyai daya tarik yang kuat untuk pemekaran kota.



Gambar 1.


Gambar 2.


Gambar 3.

Dari gambar 1, nampak bahwa daya tank dari luar kota adalah pada daerahdaerah dimana kegiatan ekonomi banyak menonjol, yaitu di sekitar pelabuhan dan di sekitar hinterland yang subur. Harga tanah di sepanjang jalan raya akan lebih tinggi daripada tanah-tanah di sekitar pegunungan.

Pada gambar 2, nampak bahwa pusat-pusat kota lain yang mempunyai fungsi sebagai kota industri dan kota dagang mempunyai daya tank di bidang usaha. Di samping itu juga daerah-daerah di sekitar pusat rekreasi tidak kalah pula dalam menarik penduduk kota keluar. Bangunan untuk peristirahatan, permainan anak-anak, lapangan olah raga dan rumah makan berkembang di daerah tersebut.

Daerah-daerah di sekitar pegunungan dan laut yang merupakan daerah lemah, tidak berarti bahwa mereka sama sekali tidak dapat menarik penduduk. Daerah-daerah lemah tersebut juga masih menarik beberapa penduduk kota yang berpenghasilan kecil. Mereka mencari tanah-tanah yang murah harganya. Pada gambar 3 menunjukkan bahwa pemekaran kota berjalan ke segala arah. Kota-kota semacam mi cepat menjadi kota besar atau kota metropolitan, dan sekitarnya juga dapat timbul kota-kota satelit.
Beberapa masalah yang menyangkut pemekaran kota:

a. Masalah migrasi ke kota. 
Perpindahan penduduk dari luar kota sering disebut dengan urbanisasi. Asal mula aglomersi di daerah kekotaan atau ”urban aglomeration” sebagai bentuk pemukiman tidak diketahui dengan pasti. Seperti digambarkan sebelumnya, pemukiman menetap tidak terjadi pada zaman sebelum neolitik. Desa-desa pada zaman neolitik dibatasi oleh tingkat teknologi dan budaya penduduknya. Jumlah penduduknya baru mencapai ratusan saja dan mereka sudah mulai nampak permanen. Nampaknya, timbulnya dan berkembangnya kota-kota tergantung pada 4 (empat) faktor:
               1)    Jumlah penduduk
               2)   Penguasaan terhadap lingkungan alam
               3)   Tingkat kemajuan teknologi
               4)   Perkembangan organisasi sosial
Perkembangan kota terutama dipengaruhi oleh besar kecilnya jumlah penduduk. Urbanisasi sebagai suatu proses dari konsentrasi penduduk menurut Hope Tisdale Eldrige, mencakup dua unsur yaitu melipatgandakan tempat-tempat konsentrasi dan bertambah luasnya pusat-pusat pemukiman.

Dalam rangka pengertian urbanisasi secara umum adalag perpindahan penduduk dari desa kekota. Ada juga terjadi bahwa banyak dari penduduk kota meninggalkan kota untuk bertempat tinggal di tempat-tempat yang mempunyai suasana desa. Kebanyakan dari mereka adalah para pensiunan yang ingin mengenyam ketenangan setelah beberapa puluh tahun hidup dengan suasana serba cepat, serba sibuk dan penuh dengan kebisingan dan polusi lainnya. Demikian pula ,bagi mereka yang sudah mempunyai unit usaha dibidang perternakan dan pertanian diluar kota meninggalkan kotanya.

Arus penduduk ke kota banyak disebabkan oleh daya tarik ekonomi dan kesempatan kerja yang ada dengan upah yang cukup. Di negara-negara sedang berkembang seperti juga indonesia mengalami urbanisasi yang semakin luas dan semakin populer. Disamping faktor-faktor yang menarik ada pula sebab-sebab lain yang mendorong, antara lain  menurunnya penghasilan penduduk di daerah pedesaan sebagai akibat dari pertambahan penduduk di desa yang tidak dapat ditampung oleh tanah-tanah pertanian di daerah pedesaan, faktor psikologis, faktor pendidikan dan faktor budaya dapat pula menjadi sebab dari urbanisasi ini

b. Masalah sampah
Sumber utama dari sampah adalah manusia, dimana ada manusia di terdapat di situ terdapat sampah. Sampah yang tertimbuh dan tidak di buang dengan segera akan merupakan sumber penyakit, sumber polusi, sumber bau yang tidak enak dan tidak sehat, masalah sampah ini timbul di kota,karena beberapa sebab, di antaranya :
  • Bertambahnya penduduk
  • Jumlah tempat sampah yang kurang dapat menampung sampah 
  • Tenaga pengangkut dan alat pengangkut yang tidak mencukupi
  •  Cara-cara pembuangan dan pembersihan yang tidak benar
  • Kesadaran penduduk yang masih kurang terhadap kebersihan kota dan kesehatan kota
Bertambahnya penduduk kota berarti pula bertambahnya pasar–pasar, toko–toko yang merupakan sumber asal mula sampah. Misalnya daun pembungkus, plastik, kulit buah–buahan, kertas, karton dan sebagainya.  

c. Masalah transportasi dan lalu lintas.
Hidup di kota adalah serba waktu, banyak dari penduduk kota mempunyai jam tangan atau bagi mereka yang tidak memiliki selalu berusaha menanyakan waktu, berbeda dengan pedesaan, pada umumnya di desa–desa yang masih jauh dari pengaruh kehidupan kota melihat waktu dengan memperhatikan posisi matahari. Jarak dan waktu yang berkaitan dengan transportasi betul–betul menjadi kebiasaan baru bagi warga kota yang dulunya tidak demikian halnya. Dengan bertambahnya kendaraan bermobil dan kendaraan beroda dua, maka jalur jalan sudah harus pula diperlebar agar tidak terjadi kemacetan ataupun kecelakaan–kecelakaan. Dibeberapa kota yang sudah maju nampak adanya fly ways, sub ways yang dapat mengurangi kepadatan lalu lintas.

Gejala–gejala lain yang nampak sebagai salah satu jalan mengatasi kepadatan lalu lintas adalah pembuatan jalan-jalan by–pass. Pemakaian helm yang di pakai pengendara sepeda roda dua merupakan salah satu gejala modernisasi kehidupan kota sebagai akibat dari demikian banyaknya korban kecelakaan.

10. Ekologi Kota
Kegairahan hidup dikota tergantung pada prasarana dan sarana didalam kota dan bagaimana mengatur prasarana dan sarana tersebut secara seimbang dan serasi.

Tiga unsur utama yang harus ada adalah:
  • Ruang, termasuk tanah dan lingkungan yang diatur dan digunakan untuk mendirikan gedung dan banngunan. (1). Untuk kantor-kantor, bank, stasiun, pasar, rumah sakit, dan sebagainya (2). Untuk jalur-jalur jalan yang menghubungkan kata dengan tempat-tempat lain seperti jalan kabupaten, jalan propinsi dan jalur-jalur kanan dan kota yang berfungsi sebagai urat nadi dalam tubuh manusia. Jalan ini mensuplai kebutuhan penduduk ke segala sudut. (3). Taman-taman olahraga, seperti lapangan sepak bola,pacuan kuda taman bermain anak-anak dan sebagainya. (4). Tempat-tempat parkir
  • Pengatur kota, baik pengatur adminitratif maupun mengatur tata kota. Mereka ini mempunyai tugas dan tanggung jawab terhadap lancarnya lalu lintas barang keperluan kota. Selain dari pada itu juga keamanan kota yang harus dijaga demi ketenangan kota.
  • Warga kota yang mengisi segala kesibukan kota dibidang pendidikan, seni dan kebudayaan, perdangan besar dan kecil, transportasi dan pengangkutan, pertokoan dan kelontong, rumah makan dan kegiatan-kegiatan lain dibidang organisasi kepemudaan, organisasi kewanitaan, para ahli hokum, para dokter, para pegawai sipil dan militer.
11. Pola Penggunaan Lahan Kota
Beberapa sarjana yang berkecimpung dalam studi kekotaan ini telah berusaha mengadakan uraian mengenai letak dan bentuk daerah permukiman di kota secara ideal Ernest W.Burgess, mengenai urban areas yang dikenal dengan teori pola zone konsentris.

Dalam teori tersebut dinyatakan bahwa daerah kekotaan dapat dibagi dalam lima (5) zone, yaitu :
  1. Zone pusat daerah kegiatan atau Central Bistricts atau Loop. Dalam zona PDK ini terdapat toko-toko besar, bangunan-bangunan kantor yang kadang-kadang atau sering juga bertingkat, bank, rumah makan, museum dan sebagainya.
  2. Zone peralihan atau sering Disebut Zone Transisi. Zone ini merupakan daerah yang terikat dengan pusat daerah kegiatan. Penduduk zone ini tidak stabil, baik ditinjauh dari segi tempat tinggal maupun dari segi social ekonomi. Daerah ini dikategorikan dalam daerah yang berpenduduk miskin. Dalam rencana pengembangan kota daerah ini akan diubah menjadi daerah yang lebih baik dan berguna, antara lain untuk kompleks perhotelan, tempat-tempat parker dan jalan-jalan utama yang menghubungkan inti kota dengan daerah-daerah di luarnya.
  3. Zone Pemukiman Klas Proletar. Nampak dalam zone ini bawah perumahannya sedikit lebih baik dari perumahan mereka yang bertempat tinggal di zone peralihan. Daerah-daerah ini didiami oleh para pekerja yang kurang mampu,rumah-rumahnya kecil dan daerah ini tidak begitu menarik. Zone ini dikenal dengan istilah Workingmen’s Home.
  4. Zone pemukiman Klas Menengah atau Residentatial Zone, ini merupakan kompleks perumahan dari para karyawan klas menengah, mereka memiliki keahlian tertentu. Rumah-rumahnya lebih baik di bandingkan dengan perumahan di daerah klas proletar.
  5. Zone penglaju atau Zone Commuters, merupakan suatu daerah yang sudah memasuki daerah belakang atau hinterland. Penduduk dari daerah ini bekerja di kota. Mereka pergi ke kota dengan naik sepeda, naik bus, kereta api pada pagi hari dan sore harinya mereka pulang ke rumah masing-masing. Oleh karena itu zone ini disebut zone penglaju.

Gambar Pola Keruangan Daerah Kekotaan Menurut Teori Konsentris

Pola keruangan seperti di atas bukan berarti sudah ideal,jadi tidak selalu tepat dengan nyata. Oleh karna itu kemudian timbulah teori yang lain seperti yang dikemukakan Homer Hoyt yang terkenal sebagai pembentuk teori sektor mengenai perkembangan daerah kekotaan.

Menurut teori ini perkembangan unit-unit kegiatan di daerah kekotaan tidak mengikuti zone-zone yang teratur secara konsentris atau melingkar tetapi dengan membentuk sektor-sektornya. Pembentukan menurut sektor-sektor ini meskipun masih ada kenampakan yang konsentris, tetapi sifatnya lebih bebas.

Homer Hoyt beranggapan dalam teorinya bahwa :
  • Daerah-daerah yang memiliki sewa tanah atau harga yang tinggi terletak di tepi luar dari kota.
  • Daerah-daerah yang memiliki sewa atau harga tanah yang rendah merupakan jalur-jalur yang mirip dengan roti tart,Jalur-jalur ini bentuknya memanjang dari pusat kota ke daerah perbatasan atau tepi kota.
  • Zone pusat adalah zone pusat daerah kegiatan (PDK).
Daerah-daerah industri berkembang sepanjang lembah sungai dan jalur jalan  kereta api yang menghubungkan kota dengan kota-kota di tempat lain sehingga dapat menimbulkan perluasan kota yang tidak konsentris melainkan meluas secara sektor.



Gambar Pola Keruangan Daerah Kekotaan Menurut Teori Sektor

Selanjutnya Homer Hoyt beranggapan bahwa kota dapat berkembang melalui tiga cara:
Pertama, sebuah kota tumbuh secara menegak,ini disebabkan karena stuktur keluarga tunggal semakin lama menjadi struktur keluarga ganda. Dengan demikian tiimbul rumah-rumah flat atau apartemen yang memisahkan keluarga satu dengan keluarga lainnya. Bila perluasan keluar menjadi terbatas maka terjadi rumah-rumah flat yang bertingkat.
Kedua, sebuah kota yang masih memiliki cukup ruang kosong dapat diisi atau terisi oleh bangunan-bangunan perumahan dan kantor-kantor di sela kota.
Ketiga, sebuah kota dapat meluas dengan arah sentrifugal atau lateral keluar. Sebagai tambahan keterangaan dapat dijelaskan disini, bahwa pola perluasan atau pemekaran atau ekspansi kota dapat terjadi dalm 3 bentuk:
  • Perluasan mengikuti pertumbuhan sumbu atau perluasanya mengikuti jalur-jalur transportasi kearah daerah-daerah perbatasan kota
  • Daerah-daerah diluar kota yang terisolir semakin lama semakin berkembang juga dan akirnya menggabung pada kota
  • Dengan bergabungnya nucleus utama dengan nukleus-nukleus dikota kota kecil yang berada diluar kota dapat terbentuk konurbasi
Teori lain yang dikenal adalah Teori inti ganda atau Multiple Nuclei. Dalam teori ini pola keruanganya tidak konsentris dan seolah olah meruakan inti yang berdiri sendiri. Teori ni juga beranggapan bahwa tidak ada urutan-urutan yang teratur dari zone-zone seperti yang dianggap oleh teori konsentris .


Gambar Pola Keruangan Daerah Kekotaan Menurut Teori Inti Ganda

Dari beberapa teori diatas, kemudian muncul beberapa kritik, diantaranya yang dikemukakan oleh Maurice R. Devie dalam bukunya The pattern of Urban Growth. Keberatan-keberatan yang diajukan sebagai berikut:
  • Bentik PDK tidaklah bulat, tetapi cendrung berbentuk segi empat atau persegi panjang .
  • Penggunaan tanah perdagangan meluar keluar secara radial sepanjang jalan dan memusat pada tempat-tempat tertentu yang strategis dan membentuk pusat-pusat sub atau sub centers.
  • Daerah industri terletak dekat jalan raya, dekat sungai sehingga tidak akan terjadi daerah-daerah industri  yang mengelompok.
  • Perumaan kelas rendah dapat di jumpai  dekat daerah-daerah indusri  dan transportasi.
  • Perumahan kelas rendah dan kelas  tinggi terdapat dimana-mana, jadi tidak akan terjadi pengelompokan-pengelompokan.
Kritik ini dapat dibenarkan juga, tetapi sudah di nyatakan lebih dahulu, bahwa teori Burgess adalah teori ideal sifatnya dan tentunya tidak selalu tepat, karena perbedaan kondisi geografis, ekonomi, kultral dan politik. Demikian dengan teori-teori lainya. Teori ini sebenarnya merupakan suatu usaha pendekatan akademis terhadap proses dan pola perkembangan daerah kekotaan.



----------------------